Perjalanan Menemukan Jawaban TUHAN (Part 2)

Pada awal pertengahan Juni saya sempat mendaftar di University of the People, salah satu online University yang berpusat di California, USA yang saya temukan lewat iklan di internet. Saya kemudian diterima dan setelah melewati beberapa proses, saya akhirnya menjalani masa orientasi yang berlangsung selama kurang lebih tiga minggu.

Disaat yang sama saya juga mendapat email dari scholarship.com (sebuah website yang membagikan informasi beasiswa) bahwa Kent State University (KSU) sedang membuka program beasiswa untuk tahun 2020. Saya kemudian mengecek link yang ada dan melakukan pendaftaran.

Salah satu persyaratan saat mendaftar sebagai mahasiswa internasional ialah bukti kemampuan berbahasa Inggris yang ditandai dengan melampirkan sertifikat TOEFL atau IELTS. Sertifikat tersebut harus dikirim melalui ETS (lembaga resmi penyelenggara tes TOEFL/IELTS). Karena sertifikat TOEFL yang saya miliki adalah paper based TOEFL yang diselengggarakan di kota saya, saya lalu mencoba menghubungi pihak ETS untuk bertanya apakah mereka bisa mengirimkan skor TOEFL saya. Menurut tim ETS, saya harus melakukan test ulang secara online dengan biaya kurang lebih $120 dan hasilnya akan mereka kirim ke kampus tujuan. Karena itu saya mengurungkan niat untuk melakukan test dan menghentikan proses melamar ke KSU. Pada saat itu saya berpikir mungkin hal ini sama seperti proses lamaran-lamaran saya sebelumnya, stuck. Saya sudah cukup ikhlas merelakan bahwa mungkin bukan jalan saya untuk berkuliah di KSU.

Pada akhir bulan Juli, saya mendapat email dari Mr. Eric, seorang senior International admissions counselor dari KSU karena mereka melihat proses lamaran saya yang stuck dan tidak ada perkembangannya. Dalam emailnya beliau bertanya program apa yang ingin saya ambil karena saya tidak sengaja mendaftar dua kali dengan program yang berbeda, Fall Semester dan Spring Semester namun kedua lamaran saya tidak ada yang berlanjut. Saya kemudian menjelaskan pada beliau kalau saya stuck karena tidak bisa melampirkan skor TOEFL saya. Dalam email saya juga saya jelasakan bahwa saya hanya memiliki sertifikat TOEFL paper based dan tidak bisa melakukan test via ETS. Lalu beliau mengatakan karena program yang akan saya ambil adalah online program, saya tidak perlu melampirkan hasil TOEFL store saya, kecuali saya melakukan test di KSU. Beliau lalu membantu saya dengan memberikan sign “complete” pada kolom English Proficiency Proof.

Walaupun saya tidak perlu mengirimkan skor TOEFL saya melalui ETS, sebagai mahasiswa internasional saya tetap wajib menunjukkan kemampuan bahasa Inggris saya. Untuk hal ini, Mr. Eric mencoba menghubungkan saya dengan Mrs. Debbie, Kepala Departemen Bahasa Inggris dengan harapan saya bisa mendapatkan English Peoficiency waiver. Saya diminta untuk mengirim email secara langsung ke Mrs. Debbie. Setelah mengirim email dan menjelaskan keadaan saya pada Mrs. Debbie, saya tidak mendapat balasan dari beliau kurang lebih dua minggu. Karena sudah berjanji pada Mr. Eric untuk kembali mengabarkan beliau apabila sudah mendapat jawaban dari Mrs. Debbie dan sudah dua minggu tidak mendengar kabar dari beliu, saya memutuskan untuk memberitahu Mr. Eric kalau saya belum mendapat respon dari Mrs. Debbie. Mr. Erik menyampaikan bahwa beliau akan bertemu dengan Mrs. Debbie secara langsung untuk memberitahukan hal ini dan Mr. Eric mengatakan kalau Mrs. Debbie tidak menerima email saya sehingga beliau menyarankan agar saya untuk kembali mengirim email ke Mrs. Debbie menggunakan email yang sama yang kami gunakan selama ini. Setelah mengikuti saran dari Mr. Eric, tidak lama kemudian saya mendapat email balasan dari Mrs. Debbie dimana beliau menanyakan sudah berapa lama saya belajar bahasa Inggris dan apa latar belakang bahasa Inggris saya. Saya menjelaskan bahwa saya sudah belajar bahasa Inggris sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bahasa Inggris juga merupakan mata pelajaran wajib yang selalu kami pelajari di sekolah sampai di bangku sekolah menengah atas. Saya juga menjelaskan kalau saya pernah berkuliah selama satu tahun akademik di Amerika dan melampirkan beberapa dokumen pendukung. Mrs. Debbie kemudian menyetujui untuk memberikan saya English proficiency waiver.

Setelah mendapatkan English proficiency waiver, tahap selanjutnya adalah math placement test. Karena waktunya sudah mepet sekali (batas class enrollment adalah tanggal 3 September waktu USA dan saat itu tanggal 1 September di Indonesia. Saat itu Eric dan partnernya benar-benar bekerja extra keras untuk membantu saya agar bisa mengikuti fall semester tahun ini karena sebagian besar kelas sudah dimulai sejak tanggal 27 Agustus kemarin. Oleh program advisor saya, Miss Amelia, saya dibantu untuk mengikuti math assement test yang dijadwalkan pada jam 08:00 AM waktu USA. Beruntungnya saya karena USA dan waktu Indonesia bagian tengah berbeda 12 jam sehingga segala ujian dan prosesnya bisa saya lakukan setelah jam kerja. Setelah selesai mengerjakan math assesment, saya menginfokan kepada Amelia via email bahwa saya telah menyelesaikan math assesment. Saya lalu memutuskan untuk tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 10:30 PM dan saya harus bangun pagi untuk berangkat ke kantor.

Pada tengah malam saya terbangun dan tidak bisa tidur kembali. Berkali-kali saya mencoba untuk menutup mata dan kembali tidur, namun sulit sekali. Saat itu suara hati saya mengatakan “bangun dan cek email” saya langsung bangun dan menuju ke ruang tengah untuk mengecek HP saya. Waktu menunjukkan pukul 01:36 dini hari. Benar saja, saat membuka email, ada serangkaian email dari Eric dan Amelia yang menghubungi seorang college writing head department untuk mengatur schedule writing assesment saya. Mereka bertanya kepada Mr. Adam, college writing head department apakah beliau masih bisa memberikan placement test bagi calon mahasiswa baru di hari itu juga, Mr. Adam menyetujui untuk memberikan extra waktunya untuk memberikan saya ujian tulis di pukul 06:00 PM waktu USA (jam kerja mereka pukul 08:00 AM-05:00 PM). Untuk hal ini, Mr. Adam membutuhkan email konfirmasi dari saya yang menyatakan saya bersedia untuk mengikuti ujian di pukul 06:00 PM waktu USA (06:00 pagi WITA). Saya kemudian mengirimkan email konfirmasi ke beliau dan mengatakan saya bersedia untuk mengikuti ujian tulis pada jam tersebut, kemudain beliau mengirimkan email instruksi terkait segaal sesuatu yang perlu saya persiapka nutnuk ujian tulis nanti.

Pada saat itu saya benar-benar merasakan pertolongan TUHAN yang begitu nyata. Saya tau TUHAN Yesuslah yang membangunkan saya di jam satu pagi itu. Saya tahu TUHAN Yesuslah yang membisikkan kepada saya untuk mengecek email itu karena email itu harus segera saya balas saat itu juga. Kalau bukan karena campur tangan TUHAN, saya pasti sudah melewatkan satu-satunya kesempatan yang saya miliki saat itu untuk bisa mendaftarkan kelas di fall semester. TUHAN Yesus memang baik sekali.

Pagi itu saya bangun lebih pagi untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian tulis. Ujian tulis berlangsung selama 85 menit. Awalnya saya sempat khawatir karena tentunya waktu ujian saya akan bertabrakan dengan waktu saya berangkat ke kantor, tetapi puji TUHAN saya bisa menyelesaikan ujian tersebut dalam waktu 1 jam 15 menit dan dapat berangkat ke kantor dengan tidak terlambat. Hasil ujian tulis diumumkan beberap jam setelah ujian diadakan dan tahap selanjutnya adalah konsultasi dengan program advisor saya untuk menentukan jumlah dan jenis-jenis kelas yang akan diambil.

Perjalanan untuk diterima di KSU merupakan suatu peristiwa iman bagaimana TUHAN Yesus mengabulkan doa-doa saya untuk dapat melanjutkan pendidikan. Bukan hanya itu, dengan segala proses yang terjadi Ia membuat segalanya indah dan memastikan bahwa semua yang telah saya lalui tidak luput dari perhatian-Nya.

This Too Shall Pass

Don’t let the evil let you down

Do not give up on the situation just because you don’t see any change

Remember, it is not over until I say it’s over.

I have brought you up on the mountain. You have seen how beautiful it is from the top. I know you want to stay there longer, but it is not where you grow.

We are walking through the valley for it is where you are growing. It is where you will witness My power.

I don’t want the evil to steal your joy.

I see how you were happy about being on top of the mountain. I see those big smiles, the pumping heart, the satisfaction. You couldn’t stop smiling and singing. You were over the moon.

I love you too much that I want you to grow.
I want you love me with all your heart. Not only when I give you what your heart desires.

I want you to come to me in every situation,

I want you to be joyful and forget the storms.

I want you to know that I am here. I, who brought you up on the mountain am the same God who will lead your way.

Don’t be discouraged.
I will never leave you nor forsake you.

I got this.

I will handle this. I love you too much to let you struggle on your own.

come to Me, leave all your weary behind.

Pray, I’m close to your heart beat.

I hear you.

I love you

let Me handle this for you.

just like the storms that I have overcome In your life,

This too, shall pass

Perjalanan Menemukan Jawaban TUHAN (Part 1)

Setelah melalui berbagai pertimbangan, saya akhirnya memutuskan untuk membagikan cerita ini, sekaligus membagi kesaksian iman bagaimana TUHAN Yesus memeluk mimpi-mimpi saya dan memimpin perjalanan saya hingga sampai ke titik ini. Memang sudah seharusnya saya memberikan kesaksian ini karena nama TUHAN pantas dipermuliakan oleh sebab kuasa-Nya yang ajaib dalam perkara kehidupan yang saya alami.

Tulisan ini sengaja saya tulis dalam bahasa Indonesia untuk menjangkau banyak hati, karena tujuan saya memang membagikan cerita berkat TUHAN kepada mereka yang mungkin punya kerinduan seperti saya. Bagi mereka yang memiliki kerinduan untuk terus melanjutkan pendidikan namun terhalang karena satu dan dua hal. Entah itu ekonomi, kesehatan, tanggung jawab kepada keluarga, dan lain sebagainya. Tulisan ini didedikasikan untuk menjangkau kalian yang sempat putus asa atau mungkin telah memutuskan untuk berhenti bermimpi. Tulisan ini bertujuan untuk memuliakan nama TUHAN sekaligus menjadi kesaksian bagaimana TUHAN Yesus turut andil, bahkan menjadi perancang yang ajaib, penyemangat yang tiada pupus, dan sumber kekuatan yang luar biasa.

Saya memiliki kerinduan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saya menyadari bahwa jika ingin melanjutkan kuliah, saya harus membiayai kuliah saya sendiri karena saya tidak bisa mengharapkan mama yang adalah seorang single parent untuk membiayai kuliah saya. Cukup tanggup jawab mama selesai pada membiayai kuliah kebidanan saya kemarin. Beberapa tahun belakangan ini saya sempat bingung apakah harus lanjut kuliah atau ataukah tetap bekerja. Bagi yang belum mengenal saya, akan saya ceritakan sedikit latar belakang diri saya agar cerita ini bisa “nyambung“.

Saya seorang lulusan dipolma III kebidanan angkatan tahun 2015. Pada saat lulus, saya sempat menganggur selama beberapa bulan sebelum kemudian berkesempatan untuk magang di RSU S.K Lerrick dan diterima bekerja di RSU Siloam Kupang yang menjadi tempat saya bekerja hingga saat ini. Proses untuk mendapatkan pekerjaan di RSU Siloam Kupang juga merupakan salah satu karunia TUHAN yang benar-benar saya rasakan dalam setiap prosesnya. Kisah ini saya abadikan dalam tulisan di postingan blog ini https://yunididing.wordpress.com/2016/01/31/prayer-is-the-key-of-everything/.

Pada bulan Juli tahun 2017, TUHAN Yesus mengabulkan mimpi terbesar saya yaitu berkuliah di Amerika dengan menganugerahkan saya kesempatan untuk berkuliah selama satu tahun akademik di Bunker Hill Community College, Boston, MA dimana saya berkesempatan untuk mengambil jurusan Public Safety dengan beasiswa Community College Initiative Program https://yunididing.wordpress.com/2017/05/06/beasiswa-community-college-initiative-program-ccip/. Beasiswa ini merupakan program beasiswa non degree (non gelar).

Saya sangat rindu untuk dapat melanjutkan pendidikan saya ke tingkat yang lebih tinggi. Saya ingin sekali setidaknya memiliki gelar master. Itu impian terbesar kedua saya setelah “tinggal dan berkuliah di Amerika.” Saat itu saya hanya berpikir bahwa saya harus melanjutkan pendidikan DIV atau S1 kebidanan terlebih dahulu agar bisa mengejar gelar master dengan beasiswa.

Proses yang saya alami untuk melanjutkan pendidikan tidaklah mudah. Saat teman-teman seangkatan saya satu per satu mulai wisuda dengan gelar baru mereka, ada yang Diploma IV, ada yang Master, saya masih saja stuck dengan gelar DIII saya. Saya bangga dan turut berbahagia atas pencapaian teman-teman saya, namun dalam hati kecil saya, saya rindu memiliki gelar seperti mereka. Saya rindu melanjutkan pendidikan. Dengan keadaan saya saat itu, saya sempat bertanya pada TUHAN, mungkinkah jalan saya seperti mereka? Mengapa sepertinya mudah sekali bagi teman-teman saya untuk melanjutkan kuliahnya sedangkan sangat sulit bagi saya untuk bisa melanjutkan pendidikan saya ke Diploma IV atau S1? Dalam kehampaan itu saya bertanya pada TUHAN sambil menangis, dada saya terasa berat. Namun TUHAN menguatkan saya dengan hikmat-Nya dan menyampaikan ini pada saya. Hal ini saya tuliskan di dalam keadaan hati yang sedang patah saat itu;

Jujur pada saat menulis ini saya tidak mengerti maksud TUHAN. Saya hanya menuliskannya dan mengimaninya. Ini perkataan yang saya butuhkan saat itu dan TUHAN menaruhnya dalam pikiran saya. Setelah menulis ini saya merasa jauh lebih baik.

Seiring berjalannya waktu dengan keadaan saya saat itu dengan berbagai pergumulan lainnya, saya menjadi hilang arah. Saya tidak tahu jalan mana yang harus saya pilih. Di satu sisi ada pergumulan lain yang sedang saya perjuangkan dan membuat saya harus memutuskan pilihan yang menurut saya sangat sulit “Menunda rencana kuliah di tahun 2021 atau memilih melanjutkan kuliah dan mengorbankan salah satu hal yang juga penting saat ini.”

Dua pilihan ini menjadi sulit karena sama-sama harus mengorbankan sesuatu yang berarti buat saya. Pergumulan lain yang tidak dapat saya ceritakan disini. Namun ada ego dalam diri saya yang menuntut TUHAN bahwa saya tidak bisa memilih salah satu diantaranya. Saya menjadi bersedih. Saya menangis, saat itu yang dapat saya lakukan hanya berdoa dan meminta petunjuk serta hikmat dari TUHAN agar mampu mengerti dan peka terhadap petunjuk yang TUHAN berikan apapun itu.

All is Well

Segalanya akan baik-baik saja, TUHAN telah berjanji akan hal itu.

Memang lebih mudah menjadi khawatir, apalagi ketika mengingat betapa buruk keadaannya.

Adalah manusiawi rasa khawatir itu. Hal itu menunjukkan bahwa kita adalah manusia biasa.

Melakukan kesalahan adalah hal yang manusiawi, menunjukkan bahwa kita bukanlah manusia sempurna. Bahwa kesempuranaan hanya milik Allah.

Namun dalam ketidaksempurnaan kita, kasih Allah menjadi nyata.

Di dalam kelemahan kita TUHAN bekerja dengan sempurna.

“Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu.” Mazmur 56 : 3

“TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Mazmur 118 : 6

“Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang. Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat.” (Amsal 03:25, 26)

Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.” Mazmur 34:5

”Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?’ Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.” (Matius 08:26)

”Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10)

”Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.” (1 Yohanes 4:18)

”TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Mazmur 27:1)

”Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut” (Mazmur 46:1, 2).

“Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’ (Roma 8:15).

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yohanes 14:27).

”Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1: 7).

Semuanya akan baik-baik saja. TUHAN yang adalah penguasa semesta yang mengendalikan segalanya, dan Ia mengasihimu. Berbahagialah, jangan biarkan rasa takut atau kekhawatiran mencuri damai sejahteramu.

God is in control, be still and know that He is God.

Perihal Menderita Dalam Kristus Part 2

Pada hari minggu malam itu, seperti biasanya saya berdoa Rosario malam. Sebelum memulai doa Rosario, saya biasanya membaca Alkitab terlebih dahulu. Saya membaca satu bab yang saya pilih secara random dan dua bacaan harian sesuai tanggal pada hari itu.

Ketika saya membuka Alkitab secara random, saya menemukan bacaan dari kitab Yoel 3 : 9 – 21. Beberapa ayat yang saya garis bawahi adalah sebagai berikut;

TUHAN mengaum dari Sion, dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya, dan langit dan bumi bergoncang. Tetapi TUHAN adalah tempat perlindungan bagi umat-Nya, dan benteng bagi orang Israel. Maka kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, adalah Allahmu, yang diam di Sion, gunung-Ku yang kudus. Dan Yerusalem akan menjadi kudus, dan orang-orang luar tidak akan melintasinya lagi.”

Yoel 3 : 16-17

Ayat-ayat ini seolah-olah berbicara kepada saya dan menjawab kerisauan hati saya. Ayat ini meneduhkan pikiran saya yang kacau dan menenangkan perasaan saya yang tidak karuan. Setelah membaca kitab Yoel, saya membaca bacaan harian saya yakni dari 1 Makabe 2:49-70. Bacaan ini pun seolah-olah berbicara kepada saya secara pribadi. Beberapa ayat dalam kitab ini saya garis bawahi juga karena berbicara secara personal kepada saya.

Bukankah Abraham ternyata setia dalam pencobaan, dan tidakkah itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran? Yusufpun di waktu kesesakan tetap menepati perintah, maka ia menjadi penguasa Mesir.”

1 Makabe 2 : 52 – 53

“Anania, Azarya dan Misael diselamatkan dari nyala api oleh karena percaya. Daniel dilepaskan dari moncong singa, oleh karena kelurusan hatinya. Hendaklah kamu renungkan angkatan demi angkatan: Belum pernahlah lemah barangsiapa percaya pada Tuhan. Jangan takut terhadap perkataan orang berdosa itu, sebab kemuliaannya akan menjadi kekotoran dan ulat.”

1 Makabe 2 : 52 – 53
Lanjutkan membaca “Perihal Menderita Dalam Kristus Part 2”

Perihal Menderita Dalam Kristus Part 1

Beberapa minggu belakangan ini saya lebih sering berdoa dan membaca kitab suci. Frekuensi berdoa pun lumayan lebih banyak dari biasanya. Biasanya saya berdoa Rosario sedapatnya saja (saat bangun pagi atau sebelum tidur, atau di sela-sela aktivitas seperti saat perjalanan berangkat dan pulang dari kantor) namun karena sedang dibarengi dengan puasa sosial media, waktu saya untuk berdoa semakin lebih banyak. Ya, saya menghabiskan waktu cukup banyak bahkan bisa dibilang berlebihan dalam penggunaan sosial media. Seringkali saya menunda-nunda waktu berdoa karena sedang asik membaca tautan yang ada di Twitter atau menonton video Keluarga The Onsu di Youtube.

Puasa sosial media cukup sering saya lakukan. Terutama apabila kejenuhan saya mencapai puncak karena menampung berbagai informasi yang sedang menjadi perbincangan daring dan pelbagai informasi terkait COVID-19 saat ini. Hal ini juga saya lakukan agar perhatian saya tidak terlalu banyak tersita karena sosial media.

Saya ingin membagi satu peristiwa iman yang baru saja saya alami perihal menderita dalam Kristus. Kemarin paman dan tanta saya menginap di rumah kami untuk mengikuti acara pemakaman salah satu keluarga kami di Kupang sekaligus menghadiri pesta pernikahan keluarga yang lain. Setelah pulang melayat mereka semua kembali ke rumah untuk bersiap-siap ke acara acara pernikahan anggota keluarga kami yang lain. Salah satu tante saya menelepon keluarga kami untuk singgah ke rumah agar sekalian bersiap-siap disini. Saya sebut saja “tante M”. Saat tiba si rumah tante M langsung menuju ke kamar dan berganti pakaian. Pada hari itu semua anggota keluarga pergi ke pesta pernikahan ini kecuali saya. Saya memang lebih suka berada di rumah dan bersantai ketimbang menghadiri pesta atau pergi ke tempat ramai lainnya.

Beberapa jam kemudian paman saya yang baru tiba dari luar kota tiba di rumah. Setelah menyajikan makanan dan segelas teh hangat, saya duduk di ruang tamu sambil memainkan dawai. Saya duduk persis di samping tas hitam milik tante M yang ia tinggalkan di rumah. Setelah itu paman saya menelepon istrinya yang sedang bersama dengan anggota keluarga kami lainnya untuk menyusul mereka. Beberapa menit kemudian sebuah mobil Avanza berhenti di depan rumah dan menjemput paman saya. Tante saya keluar menjemput suaminya bersama dengan anggota keluarga kami yang lain yang sedang menunggu di dalam mobil. Mobil tersebut melaju dan menghilang sesaat setelah paman saya masuk diiringi dengan lambaian tangan perpisahan dari mereka semua yang berada di dalam mobil.

Sore harinya, setelah selesai mandi dan berdoa, tidak biasanya saya menonton televisi. Entah mengapa kemarin saya ingin sekali menyaksikan siaran apa saja yang ada sore itu. Saya kemudian menyalakan TV dan menyaksikan program motivasi di salah satu TV swasta nasional. Sepanjang waktu sore hingga malam hari saya habiskan di ruang tengah sambil menonton televisi.

Waktu menunjukkan pukul 22:30 WITA. Kata syalom dan selamat malam memecah keseriusan saya yang sedang asyik menonton televisi. Saya kemudian menyambut paman dan tante saya dengan cerita pesta pernikahan mereka. Di tengah kesibukan para tante yang sedang berganti pakaian, tante M memecah perhatian kami dengan menanyakan tas hitamnya. Beliau mengatakan bahwa tas tersebut iya taruh di atas kasur yang ada di ruang tamu. Seketika saya teringat akan tas hitam yang ada di samping saya saat saya bermain dawai. Tanta M menjelaskan bahwa sebelum ia pergi, ia sempat menaruh tas itu diatas kasur kami. Saya tau betul bahwa tas itu ada, karena saya duduk disampingnya. Ibu, adik dan tante saya yang lain sibuk membantu melihat ke sekeliling rumah untuk mencari keberadaan tas tersebut. Saya pun demikian. Saya jelaskan kepada tante M bahwa tas itu tadi ada disini, diatas kasur. Saya melihatnya. Setelah itu tidak saya perhatikan lagi. Cushion merah yang sebelumnya ada bersama tas hitam tersebut masih tertata rapih diatas kasur tanpa tas hitam kecil yang hilang entah dimana. Saat semuanya sibuk mencari dalam hati saya berdoa “God, tas ini tidak mungkin hilang. Tidak bisa hilang. Please God. Saya sudah berdoa lebih sering dan hubungan kita baik-baik saja. Tidak mungkin Engkau melakukan ini pada saya. Tas itu tidak mungkin hilang. Engkau tidak mungkin tega melakukan ini pada saya. Hal ini terjadi di luar kendali saya. Kau tahu itu TUHAN.” Saya terus menerus mengulangi doa yang sama hingga salah satu tante saya mengatakan pada tante M bahwa sebaiknya ia pulang saja dan akan kami bantu cari kan tasnya dan di kembalikan besok. Menurut tante M tas itu berisi celana yang is pakai saat datang ke rumah kami. Saya sedikit lagi karena setidaknya tidak ada uang atau barang berharga lainnya yang ia tinggalkan di dalam tas tersebut.

Pencarian diseluruh sudut ruang tamu kami lakukan sampai pada kesimpulan tas tersebut telah dicuri orang. Tetapi bagaimana? Kapan? Saya mencoba mengulik memori saya kapan terakhir kali saya tidak menutup pintu saat saya berada di dapur atau di kamar mandi dalam waktu yang lama. Saya khawatir dan sedih. Ini pertama kalinya tante M berkunjung ke rumah kami dan pengalaman yang ia alami bukanlah pengalaman yang menyenangkan.

Saya tidak bisa berhenti memikirkan hal ini. Saya merasa sangat bersalah, terutama pada tante M. Berbagai macam skenario seandainya bermunculan di kepala saya. Bagaimana seandainya saya mengunci pintu saat saya tidak berada di ruang tamu, seandainya saya memindahkan tas tersebut ke dalam kamar, seandainya saya tidak menonton televisi hari itu, seandainya saya juga ikut bersama rombongan, dan berbagai seandainya yang membuat saya semakin merasa terpuruk.

Saya berusaha untuk mengakhiri hari itu dengan berbaring menutup mata. Saya terus terusan berdoa dan berharap bahwa hari itu hanyalah sebuah mimpi namun pada kenyataannya itu adalah kenyataan. Saya berdoa meminta kekuatan dari TUHAN dan keteguhan hati. Berbagai ayat Alkitab bermunculan di kepala saya, saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sayangnya hati saya menolak untuk percaya. Saya takut. Saya tidak mau mempercayai segala kata-kata penguatan yang telah saya garis bawahi di buku-buku rohani yang saya baca. Dalam hati saya merasa TUHAN sedang meninggalkan saya, walaupun nurani saya terus berbisik seolah-olah saya membohongi diri sendiri.

Berkali-kali saya mencoba menutup mata namun ketakutan memaksa saya untuk terus terjaga. Tiba-tiba tante saya masuk ke kamar dan mengatakan barusan tanta M mengirimkan pesan singkat kepada beliau dan mengatakan tas tersebut berisi surat-surat berharga dan kartu identitasnya. Hati saya semakin tenggelam dalam keputusasaan. Saya semakin merasa bersalah dan terpuruk. Saya kembali memanggil nama TUHAN namun sepertinya TUHAN tidak merespon saya. Saya meminta agar diberi kekuatan agar saya bisa beristirahat pada malam itu dan menyerahkan segalanya pada hari esok. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Saya mengambil dawai saya, membaca berkali-kali kalimat peneguhan dalam buku-buku rohani yang telah saya baca namun tidak memberikan pengaruh sama sekali. Saya akhirnya memutuskan untuk berdoa, meminta TUHAN agar setidaknya memberikan saya rasa kantuk malam ini agar dapat beristirahat semalam saja. TUHAN memang baik. Seketika itu juga saya dapat pulas tertidur.

Pagi hari ini saya bangun pagi sekali. Mungkin karena dibangunkan oleh suara Ibu dan tante saya yang telah bangun lebih pagi. Mereka bercakap-cakap tentang rencana masakan hari ini. Saya kemudian bangun dan berdoa. Selain ucapan syukur di hari yang baru, fokus doa saya kali ini bukan lagi tentang meminta penyertaan TUHAN sepanjang hari, melainkan bagaimana agar tas hitam itu segera ditemukan kembali. Seusai berdoa saya kemudian bersiap-siap untuk pergi ke gereja. Tentu saja dengan motivasi untuk langsung berhadapan dengan tabernakel untuk meminta tas itu kembali kepada pemiliknya. Bagaimanapun caranya.

Sesampainya di gereja, saya mengikuti perayaan misa seperti biasa. Saya memperhatikan dengan seksama isi setiap bacaan dan mazmur hari ini, dengan isi kepala yang penuh dengan harapan TUHAN menguatkan saya lewat firman hari ini. Benar saja. Tema bacaan hari ini adalah mengenai kesabaran ALLAH kepada manusia, dan bahwa Roh berdoa untuk kita kepada ALLAH dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Hati saya kembali dikuatkan dengan ekaristi Kudus di penghujung misa. Tidak puas dengan hanya mengikuti misa, saya mampir sebentar ke gua Maria dan berdoa disana. Saya mendaraskan lima Peristiwa Mulia dengan ujud doa seperti ujud-ujud yang setiap hari saya naikkan. Pada peristiwa terakhir, saya memohon rahmat TUHAN agar dapat menemukan tas hitam itu kembali. Saya juga mendoakan doa Mukjizat TUHAN YESUS dengan harapan agar diberi titik terang mengenai permasalahan ini. Perasaan saya jauh membaik ketika selesai berdoa. Sepanjang perjalanan pulang saya menyanyikan lagu berjudul ALLAH Sanggup dengan hati yang riang. Siapa sangka, TUHAN benar-benar mengubah cara pandang saya menyikapi permasalahan ini dengan mata iman yang lebih dewasa setelahnya.

Saya kemudian merefleksi kembali pernyataan saya pada TUHAN malam tadi. Betapa sombong dan tidak tahu dirinya saya yang dengan tegas mengatakan TUHAN tidak boleh mengizinkan masalah ini datang pada saya karena saya rajin berdoa. Betapa tidak tahu malunya saya saat menekan TUHAN dengan berkata “harusnya masalah ini tidak boleh terjadi, ini di luar kendali saya, TUHAN harus segera bertindak.” Saya menuduh TUHAN tidak ada disaat tidak ada perubahan situasi menjadi seperti yang saya harapakan. Saya begitu bodoh mengharapkan bahwa tidak mungkin sesuatu yang buruk terjadi pada saya. Seolah-olah TUHAN berhutang pada saya karena saya berbuat baik, karena saya rajin berdoa.

Dalam doa-doa saya, selalu saya katakan TUHAN, jadikan hati saya seperti hati-Mu. Saya mau jadi seperti Engkau. Saya mau orang-orang melihat Engkau dalam diri saya. Saat TUHAN memproses saya, saya malah merengek pada TUHAN. Saya ingin menjadi seperti Kristus tetapi bermental manja dan hanya mau yang baik-baik saja. Saya tersadar, siapa saya sehingga saya menuntut TUHAN untuk mengasihi dan memanjakan saya? Siapa saya sehingga mengatur cara TUHAN mendidik saya? Saya bilang saya ingin menjadi seperti Kristus. TUHAN Yesus Kristus tidak lari ketika algojo datang menjemput-Nya. Ia sangat ketakutan tetapi dengan taat mengikuti rencana ALLAH dan bahkan berkata “Ya Bapa jika Engkau berkenan, Biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku. Tetapi bukanlah kehendak-Ku yang terjadi, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Walau Ia ingin peristiwa ini berlalu, Ia tetap membiarkan perkenaan TUHAN yang terjadi, dan Ia tahu bahwa hal ini harus terjadi agak manusia dapat diselamatkan. TUHAN Yesus taat sampai mati di kayu salip. Ia mengalami kengerian yang tiada taranya, tetapi Ia menyelesaikannya. Sedangkan saya, hanya masalah sekecil ini, saya mengeluh pada TUHAN. Bagaimana saya bisa menjadi seperti TUHAN Yesus seperti yang sudah saya doakan?

Selama ini saya tau benar pernyataan yang mengatakan TUHAN tidak pernah berjanji bahwa saat kita mengikuti Dia semua hal akan berjalan mulus dan segala keuntungan atau kebaikan akan kita terima. Seperti lagu Edward Chen Jangan Pernah Menyerah, liriknya yang mengatakan dengan jelas “TUHAN tak pernah janji langit selalu biru, tetapi Dia berjanji selalu menyertai. TUHAN tak pernah janji jalan selalu rata, tetapi Dia berjanji berikan kekuatan..” lagu ini sangat indah dan menguatkan.

Selain lagu indah ini banyak sekali cerita tokoh-tokoh di Alkitab yang dengan nyata menunjukkan bahwa perjalanan menjadi orang Kudus itu tidak mudah. Daud yang sepanjang hidupnya taat kepada ALLAH dan mengasihi ALLAH sepenuh hati pun hidupnya tidak semulus yang kita bayangkan. Adapula Ayub, yang sepanjang hidupnya begitu mengasihi ALLAH, rajin membakar kurban bakaran untuk dirinya dan keluarganya agar ALLAH senantiasa berkenan kepadanya juga mengalami cobaan hebat dimana ia kehilangan segala sesuatu yang dimiliki. Ada lagi Yusuf, si bungsu (sebelum kelahiran Benyamin) yang terkecil diantara sanak saudaranya yang sejak kecil mendapatkan mimpi bahwa Ia akan menjadi besar dan dihormati oleh seluruh saudaranya. Ia dibuang oleh saudara-saudaranya sendiri dan dijual sebagai budak kepada orang Mesir. Tidak lupa juga kisah Petrus, murid yang terkasih TUHAN Yesus yang selalu dengan gigih memberitakan Injil dengan segala penderitaan yang ia alami serta masih banyak lagi. Mereka adalah pahlawan-pahlawan rohani yang kehidupannya menggambarkan walaupun berjalan dalam lembah kelam, TUHAN selalu menyertai. Walaupun segalanya terasa sulit, tangan TUHAN senantiasa memelihara mereka dan memberikan mereka kekuatan. Janji TUHAN adalah kekuatan mereka untuk bertahan karena mereka percaya TUHAN akan menepati janji-Nya. Mereka adalah sosok manusia biasa yang sekalipun merasa ketakutan, tidak membiarkan ketakutan itu menyelimuti mereka malahan semakin kuat rasa takut itu menyergap, semakin kuat mereka berseru kepada ALLAH dan mengharapkan pertolongan yang datang dari ALLAH.

Melalui peristiwa ini saya percaya bahwa TUHAN sedang ingin melihat keseriusan saya dalam mengikuti-Nya. TUHAN ingin melihat keseriusan saya dalam mengimani apa yang saya doakan ketika saya meminta untuk menjadikan hati saya seperti hati TUHAN Yesus. Seberapa kuat keinginan dan seberapa dalam kesetiaan saya mengikuti proses yang TUHAN berikan ini. Apakah saya termasuk dalam kelompok semak berduri yang ketika benih (firman TUHAN) ditabur kepadanya, menjadi terhimpit oleh sehingga tidak bertumbuh, ataukah menjadi tanah yang baik, yang ketika penabur (TUHAN) menabur benihnya (firman-Nya), tumbuh subur dan menghasilkan buah?

Saya memilih menjadi tanah yang baik itu. Saya mau percaya pada firman dan janji TUHAN. Saya mau berbuah di dalam TUHAN.

Saya mengucap syukur kepada TUHAN karena kejadian-Nya dahsyat dan ajaib. Pertolongan-Nya selalu tepat pada waktu-Nya dan tepat sasaran. Apapun yang akan terjadi kedepannya, saya tahu bahwa TUHAN saat ini sedang menggenggam tangan saya, menggendong saya untuk melalui kejadian ini. Saya meminta agar hati saya diubahkan dan TUHAN telah mengubah bukan hanya hati, tetapi cara pandang saya dalam menyikapi persoalan ini. TUHAN memang baik. Selalu baik dan amat sangat baik.

Biarlah nama TUHAN selalu dimuliakan..

Kupang, 19 Juli 2020

Sumber gambar: https://www.kaj.or.id/read/2017/11/13/11673/surat-keluarga-november-tantangan-mengikuti-yesus-sekeluarga.php

Chapter Twenty-Six

Source : Pinterest

Today is my birthday and as you calculate it, I officially turn twenty-six today.

I always think that it is necessary to look back at my past and have a glance at the previous year before I really end this special day. Writing on my birthday is one of the means to cherish the moment so I can always go back to see what it looks like in the past.

My 25 year-old life had been a roller coaster ride. It started off with having my heart broken exactly on my birthday. I don’t wanna go into details about this because it was too personal to me and I had promised myself not to dredge up the feeling I had tried to burry forever. On a positive note, I was happy that God had prepared me to face it by revealing to me that he wasn’t the one few months before that so I could back off from our relationship and gradually diminish my feelings for him. That time I didn’t understand why this could happen to me and why he behaved that way but as the day went by everything seemed to link to one another.

In this age also, I experienced what so called “Quarter Life Crisis”. I didn’t know that it was existent. The anxiety, fear and the feeling of not being good enough haunted me every time I woke up in the morning. I hated the nights when I couldn’t even close my eyes because of my overthinking. I had no peace whatsoever. I prayed but it seemed like my anxiety couldn’t fade away. Everything seemed wrong to me. To top it all off, I began to compare my life with my other friends’ lives which seemed more successful than mine. I hated myself for not knowing what I really wanted and where I wanted to go.

I knew I couldn’t be like this forever. I knew I needed some breaks. From life, from my busy schedules and from everything. I freed myself from everything that had caught my attention. I did the social media fasting and that was one of the best things I’d ever experienced. I no longer had that craving for attention through likes and engagement. It felt so good.

This phase of life had also its goodness. This year I had two major events that sparked the light of hope and made me realize the perfect and loving care of the Lord throughout every journey in my life. It was also a reminder for me that God was not finished yet. As long as I was still breathing, there was always hope and that help was always there.

God had been so good to me throughout my 25 year-old life. He was so close to me and watching me over as I took the baby steps. He was a prayer away and it was true that things magically turned well after I prayed. I was too focus on asking and wondering alone that I forgot that He was the answer. He alone was the way yet I kept searching in the darkness and all I found was emptiness because my focus wasn’t on Him.

As I got back on track, He leaded me. He brought me to the peace I could never find in any places but His. I thank God for His Providence and His patience ❤️

Waktu Aku Takut, Aku ini Percaya Kepada-Mu

source : https://debra-casagrande.com/starseeds-and-empaths-need-time-alone/

Setelah sekian purnama mengumpulkan niat, ide-ide sampai pada tahap menulis draft di blog agar tidak kelupaan. Pemikiran-pemikiran yang ingin saya bagikan pada akhirnya hanya sampai pada tahap bertengger dalam folder draft. Setiap kali mendapat ide menarik, isi kepala ini bergejolak “mau tulis ini di blog ahh, ehh tapi tunggu dulu. Buatin idenya aja dulu kali yaa” selalu seperti ini hingga tak ada satupun yang terealisasikan. Paling mentok ya di kirim ke WhatsApp status. Entah berapa banyak thema yang bergantung disana, yang hanya datang dan pergi begitu saja.

Menjaga konsistensi untuk terus menulis di blog bukanlah perkara mudah bagi seorang moody blogger seperti saya. Dari yang rencananya menulis review terkait buku-buku menarik yang telah saya baca, sampai pendapat tentang isu-isu sosial dan politik. Dari topik receh nan greget seperti gossip selebrity sampai topik-topik berat seperti dugaan kasus pemakzulan President Trump dan pemulangan WNI yang pernah bergabung dengan ISIS hasil diskusi saya dengan seorang teman. Semuanya ingin sekali saya bagikan, tapi apa daya godaan-godaan lainnya lebih berat. Maafkan diri ini, pesan yang terus saya katakan pada diri sendiri.

Satu-satunya hal di dunia ini yang mampu mendongkrak semangat seorang Junita Diding untuk menulis adalah kegalauannya. Bukan galau masalah percintaan. Hal ini perlu digaribawahi. Tidak semua kegalauaan yang dialami seseorang bersumber dari kegalauannya akan masalah percintaan. Walaupun diusia sepertempat abad dengan status single sering dikaitkan dengan kehidupan yang menyedihkan (saya sangat tidak setuju dengan hal ini). Saya tidak bilang saya kebal terhadap permasalahan percintaan. Saya sosok yang cukup mellow dan ambyar. Hanya saja permasalahan cinta bukanlah sesuatu yang menurut saya pantas menyita waktu saya untuk terlalu khawatir dan bersedih dalam waktu berkepanjangan.

Menulis merupakan salah satu terapi yang paling mujarab bagi saya. Dengan menulis saya menemukan kekuatan dan penghiburan tersendiri. Itu sebabnya catatan-catatan dalam blog ini sebagian besar berisi motivasi dan penguatan terkait masalah kehidupan, karena memang saya menulisnya sebagai terapi untuk diri sendiri. Setelah menulis perasaan saya akan kembali membaik. Hati ini menjadi lebih tenang dan pikiran menjadi lebih jernih. Dengan menulis saya kembali mengingatkan diri saya bahwa TUHAN Yesus yang dahulu selalu hadir dan menolong saya, adalah TUHAN yang sama yang saat ini berjalan bersama saya dan meneguhkan iman saya.

Melanjutkan obrolan terkait kegalauan di hidup ini, hari ini ada sebuah peristiwa yang terjadi dan cukup membuat saya sempat merasa khawatir namun saya kembali diingatkan akan firman Tuhan dalam kitab Mazmur 5 : 11-13 “Tetapi semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya, karena Engkau menaungi mereka; dan karena Engkau akan bersukaria orang-orang yang mengasihi nama-Mu. Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai.” Firman ini memberikan saya kelegaan dan menenangkan hati saya saya. Saya tahu bahwa badai ini pun akan berakhir. Seperti badai-badai sebelumnya.

Hanya oleh karena kemurahan TUHAN saya dapat merasakan sukacita di tengah permasalahan hidup yang menghimpit. Saya percaya, ketika saya berlutut dan menyerahkan segala permasalahan yang terjadi di luar kendali saya ini, TUHAN dengan tangannya yang terbuka menyambut dan menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan. Permasalahan yang hari ini boleh terjadi tentunya tidak luput dari perhatian ALLAH.

Saya percaya TUHAN sedang berkerja bahkan sebelum saya datang padanya untuk meminta pertolongan. Siklus seperti ini selalu terjadi dan saya menikmati setiap proses yang TUHAN berikan. Permasalahan ada untuk membuat saya semakin dekat dengan TUHAN. Untuk membuat saya “bergantung” pada otoritas dan keMahakuasaan-Nya. Dengan hati yang ringan, saya tahu bahwa TUHAN punya jalan keluar yang terbaik. Saya hanya perlu datang, mengangkat hati dan mengutarakan apa yang ada dalam pikiran saya. Seperti seorang anak kecil yang berlari ke arah bapanya saat dikejar ombak yang menggulung, saya berlari kepada TUHAN dan berkata “Waktu aku takut, Aku ini percaya kepada-Mu” Mazmur 56:4. Dan Ia akan bertindak.