Perihal Menderita Dalam Kristus Part 2

Pada hari minggu malam itu, seperti biasanya saya berdoa Rosario malam. Sebelum memulai doa Rosario, saya biasanya membaca Alkitab terlebih dahulu. Saya membaca satu bab yang saya pilih secara random dan dua bacaan harian sesuai tanggal pada hari itu.

Ketika saya membuka Alkitab secara random, saya menemukan bacaan dari kitab Yoel 3 : 9 – 21. Beberapa ayat yang saya garis bawahi adalah sebagai berikut;

TUHAN mengaum dari Sion, dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya, dan langit dan bumi bergoncang. Tetapi TUHAN adalah tempat perlindungan bagi umat-Nya, dan benteng bagi orang Israel. Maka kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, adalah Allahmu, yang diam di Sion, gunung-Ku yang kudus. Dan Yerusalem akan menjadi kudus, dan orang-orang luar tidak akan melintasinya lagi.”

Yoel 3 : 16-17

Ayat-ayat ini seolah-olah berbicara kepada saya dan menjawab kerisauan hati saya. Ayat ini meneduhkan pikiran saya yang kacau dan menenangkan perasaan saya yang tidak karuan. Setelah membaca kitab Yoel, saya membaca bacaan harian saya yakni dari 1 Makabe 2:49-70. Bacaan ini pun seolah-olah berbicara kepada saya secara pribadi. Beberapa ayat dalam kitab ini saya garis bawahi juga karena berbicara secara personal kepada saya.

Bukankah Abraham ternyata setia dalam pencobaan, dan tidakkah itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran? Yusufpun di waktu kesesakan tetap menepati perintah, maka ia menjadi penguasa Mesir.”

1 Makabe 2 : 52 – 53

“Anania, Azarya dan Misael diselamatkan dari nyala api oleh karena percaya. Daniel dilepaskan dari moncong singa, oleh karena kelurusan hatinya. Hendaklah kamu renungkan angkatan demi angkatan: Belum pernahlah lemah barangsiapa percaya pada Tuhan. Jangan takut terhadap perkataan orang berdosa itu, sebab kemuliaannya akan menjadi kekotoran dan ulat.”

1 Makabe 2 : 52 – 53
Lanjutkan membaca “Perihal Menderita Dalam Kristus Part 2”

Perihal Menderita Dalam Kristus Part 1

Beberapa minggu belakangan ini saya lebih sering berdoa dan membaca kitab suci. Frekuensi berdoa pun lumayan lebih banyak dari biasanya. Biasanya saya berdoa Rosario sedapatnya saja (saat bangun pagi atau sebelum tidur, atau di sela-sela aktivitas seperti saat perjalanan berangkat dan pulang dari kantor) namun karena sedang dibarengi dengan puasa sosial media, waktu saya untuk berdoa semakin lebih banyak. Ya, saya menghabiskan waktu cukup banyak bahkan bisa dibilang berlebihan dalam penggunaan sosial media. Seringkali saya menunda-nunda waktu berdoa karena sedang asik membaca tautan yang ada di Twitter atau menonton video Keluarga The Onsu di Youtube.

Puasa sosial media cukup sering saya lakukan. Terutama apabila kejenuhan saya mencapai puncak karena menampung berbagai informasi yang sedang menjadi perbincangan daring dan pelbagai informasi terkait COVID-19 saat ini. Hal ini juga saya lakukan agar perhatian saya tidak terlalu banyak tersita karena sosial media.

Saya ingin membagi satu peristiwa iman yang baru saja saya alami perihal menderita dalam Kristus. Kemarin paman dan tanta saya menginap di rumah kami untuk mengikuti acara pemakaman salah satu keluarga kami di Kupang sekaligus menghadiri pesta pernikahan keluarga yang lain. Setelah pulang melayat mereka semua kembali ke rumah untuk bersiap-siap ke acara acara pernikahan anggota keluarga kami yang lain. Salah satu tante saya menelepon keluarga kami untuk singgah ke rumah agar sekalian bersiap-siap disini. Saya sebut saja “tante M”. Saat tiba si rumah tante M langsung menuju ke kamar dan berganti pakaian. Pada hari itu semua anggota keluarga pergi ke pesta pernikahan ini kecuali saya. Saya memang lebih suka berada di rumah dan bersantai ketimbang menghadiri pesta atau pergi ke tempat ramai lainnya.

Beberapa jam kemudian paman saya yang baru tiba dari luar kota tiba di rumah. Setelah menyajikan makanan dan segelas teh hangat, saya duduk di ruang tamu sambil memainkan dawai. Saya duduk persis di samping tas hitam milik tante M yang ia tinggalkan di rumah. Setelah itu paman saya menelepon istrinya yang sedang bersama dengan anggota keluarga kami lainnya untuk menyusul mereka. Beberapa menit kemudian sebuah mobil Avanza berhenti di depan rumah dan menjemput paman saya. Tante saya keluar menjemput suaminya bersama dengan anggota keluarga kami yang lain yang sedang menunggu di dalam mobil. Mobil tersebut melaju dan menghilang sesaat setelah paman saya masuk diiringi dengan lambaian tangan perpisahan dari mereka semua yang berada di dalam mobil.

Sore harinya, setelah selesai mandi dan berdoa, tidak biasanya saya menonton televisi. Entah mengapa kemarin saya ingin sekali menyaksikan siaran apa saja yang ada sore itu. Saya kemudian menyalakan TV dan menyaksikan program motivasi di salah satu TV swasta nasional. Sepanjang waktu sore hingga malam hari saya habiskan di ruang tengah sambil menonton televisi.

Waktu menunjukkan pukul 22:30 WITA. Kata syalom dan selamat malam memecah keseriusan saya yang sedang asyik menonton televisi. Saya kemudian menyambut paman dan tante saya dengan cerita pesta pernikahan mereka. Di tengah kesibukan para tante yang sedang berganti pakaian, tante M memecah perhatian kami dengan menanyakan tas hitamnya. Beliau mengatakan bahwa tas tersebut iya taruh di atas kasur yang ada di ruang tamu. Seketika saya teringat akan tas hitam yang ada di samping saya saat saya bermain dawai. Tanta M menjelaskan bahwa sebelum ia pergi, ia sempat menaruh tas itu diatas kasur kami. Saya tau betul bahwa tas itu ada, karena saya duduk disampingnya. Ibu, adik dan tante saya yang lain sibuk membantu melihat ke sekeliling rumah untuk mencari keberadaan tas tersebut. Saya pun demikian. Saya jelaskan kepada tante M bahwa tas itu tadi ada disini, diatas kasur. Saya melihatnya. Setelah itu tidak saya perhatikan lagi. Cushion merah yang sebelumnya ada bersama tas hitam tersebut masih tertata rapih diatas kasur tanpa tas hitam kecil yang hilang entah dimana. Saat semuanya sibuk mencari dalam hati saya berdoa “God, tas ini tidak mungkin hilang. Tidak bisa hilang. Please God. Saya sudah berdoa lebih sering dan hubungan kita baik-baik saja. Tidak mungkin Engkau melakukan ini pada saya. Tas itu tidak mungkin hilang. Engkau tidak mungkin tega melakukan ini pada saya. Hal ini terjadi di luar kendali saya. Kau tahu itu TUHAN.” Saya terus menerus mengulangi doa yang sama hingga salah satu tante saya mengatakan pada tante M bahwa sebaiknya ia pulang saja dan akan kami bantu cari kan tasnya dan di kembalikan besok. Menurut tante M tas itu berisi celana yang is pakai saat datang ke rumah kami. Saya sedikit lagi karena setidaknya tidak ada uang atau barang berharga lainnya yang ia tinggalkan di dalam tas tersebut.

Pencarian diseluruh sudut ruang tamu kami lakukan sampai pada kesimpulan tas tersebut telah dicuri orang. Tetapi bagaimana? Kapan? Saya mencoba mengulik memori saya kapan terakhir kali saya tidak menutup pintu saat saya berada di dapur atau di kamar mandi dalam waktu yang lama. Saya khawatir dan sedih. Ini pertama kalinya tante M berkunjung ke rumah kami dan pengalaman yang ia alami bukanlah pengalaman yang menyenangkan.

Saya tidak bisa berhenti memikirkan hal ini. Saya merasa sangat bersalah, terutama pada tante M. Berbagai macam skenario seandainya bermunculan di kepala saya. Bagaimana seandainya saya mengunci pintu saat saya tidak berada di ruang tamu, seandainya saya memindahkan tas tersebut ke dalam kamar, seandainya saya tidak menonton televisi hari itu, seandainya saya juga ikut bersama rombongan, dan berbagai seandainya yang membuat saya semakin merasa terpuruk.

Saya berusaha untuk mengakhiri hari itu dengan berbaring menutup mata. Saya terus terusan berdoa dan berharap bahwa hari itu hanyalah sebuah mimpi namun pada kenyataannya itu adalah kenyataan. Saya berdoa meminta kekuatan dari TUHAN dan keteguhan hati. Berbagai ayat Alkitab bermunculan di kepala saya, saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sayangnya hati saya menolak untuk percaya. Saya takut. Saya tidak mau mempercayai segala kata-kata penguatan yang telah saya garis bawahi di buku-buku rohani yang saya baca. Dalam hati saya merasa TUHAN sedang meninggalkan saya, walaupun nurani saya terus berbisik seolah-olah saya membohongi diri sendiri.

Berkali-kali saya mencoba menutup mata namun ketakutan memaksa saya untuk terus terjaga. Tiba-tiba tante saya masuk ke kamar dan mengatakan barusan tanta M mengirimkan pesan singkat kepada beliau dan mengatakan tas tersebut berisi surat-surat berharga dan kartu identitasnya. Hati saya semakin tenggelam dalam keputusasaan. Saya semakin merasa bersalah dan terpuruk. Saya kembali memanggil nama TUHAN namun sepertinya TUHAN tidak merespon saya. Saya meminta agar diberi kekuatan agar saya bisa beristirahat pada malam itu dan menyerahkan segalanya pada hari esok. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Saya mengambil dawai saya, membaca berkali-kali kalimat peneguhan dalam buku-buku rohani yang telah saya baca namun tidak memberikan pengaruh sama sekali. Saya akhirnya memutuskan untuk berdoa, meminta TUHAN agar setidaknya memberikan saya rasa kantuk malam ini agar dapat beristirahat semalam saja. TUHAN memang baik. Seketika itu juga saya dapat pulas tertidur.

Pagi hari ini saya bangun pagi sekali. Mungkin karena dibangunkan oleh suara Ibu dan tante saya yang telah bangun lebih pagi. Mereka bercakap-cakap tentang rencana masakan hari ini. Saya kemudian bangun dan berdoa. Selain ucapan syukur di hari yang baru, fokus doa saya kali ini bukan lagi tentang meminta penyertaan TUHAN sepanjang hari, melainkan bagaimana agar tas hitam itu segera ditemukan kembali. Seusai berdoa saya kemudian bersiap-siap untuk pergi ke gereja. Tentu saja dengan motivasi untuk langsung berhadapan dengan tabernakel untuk meminta tas itu kembali kepada pemiliknya. Bagaimanapun caranya.

Sesampainya di gereja, saya mengikuti perayaan misa seperti biasa. Saya memperhatikan dengan seksama isi setiap bacaan dan mazmur hari ini, dengan isi kepala yang penuh dengan harapan TUHAN menguatkan saya lewat firman hari ini. Benar saja. Tema bacaan hari ini adalah mengenai kesabaran ALLAH kepada manusia, dan bahwa Roh berdoa untuk kita kepada ALLAH dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Hati saya kembali dikuatkan dengan ekaristi Kudus di penghujung misa. Tidak puas dengan hanya mengikuti misa, saya mampir sebentar ke gua Maria dan berdoa disana. Saya mendaraskan lima Peristiwa Mulia dengan ujud doa seperti ujud-ujud yang setiap hari saya naikkan. Pada peristiwa terakhir, saya memohon rahmat TUHAN agar dapat menemukan tas hitam itu kembali. Saya juga mendoakan doa Mukjizat TUHAN YESUS dengan harapan agar diberi titik terang mengenai permasalahan ini. Perasaan saya jauh membaik ketika selesai berdoa. Sepanjang perjalanan pulang saya menyanyikan lagu berjudul ALLAH Sanggup dengan hati yang riang. Siapa sangka, TUHAN benar-benar mengubah cara pandang saya menyikapi permasalahan ini dengan mata iman yang lebih dewasa setelahnya.

Saya kemudian merefleksi kembali pernyataan saya pada TUHAN malam tadi. Betapa sombong dan tidak tahu dirinya saya yang dengan tegas mengatakan TUHAN tidak boleh mengizinkan masalah ini datang pada saya karena saya rajin berdoa. Betapa tidak tahu malunya saya saat menekan TUHAN dengan berkata “harusnya masalah ini tidak boleh terjadi, ini di luar kendali saya, TUHAN harus segera bertindak.” Saya menuduh TUHAN tidak ada disaat tidak ada perubahan situasi menjadi seperti yang saya harapakan. Saya begitu bodoh mengharapkan bahwa tidak mungkin sesuatu yang buruk terjadi pada saya. Seolah-olah TUHAN berhutang pada saya karena saya berbuat baik, karena saya rajin berdoa.

Dalam doa-doa saya, selalu saya katakan TUHAN, jadikan hati saya seperti hati-Mu. Saya mau jadi seperti Engkau. Saya mau orang-orang melihat Engkau dalam diri saya. Saat TUHAN memproses saya, saya malah merengek pada TUHAN. Saya ingin menjadi seperti Kristus tetapi bermental manja dan hanya mau yang baik-baik saja. Saya tersadar, siapa saya sehingga saya menuntut TUHAN untuk mengasihi dan memanjakan saya? Siapa saya sehingga mengatur cara TUHAN mendidik saya? Saya bilang saya ingin menjadi seperti Kristus. TUHAN Yesus Kristus tidak lari ketika algojo datang menjemput-Nya. Ia sangat ketakutan tetapi dengan taat mengikuti rencana ALLAH dan bahkan berkata “Ya Bapa jika Engkau berkenan, Biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku. Tetapi bukanlah kehendak-Ku yang terjadi, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Walau Ia ingin peristiwa ini berlalu, Ia tetap membiarkan perkenaan TUHAN yang terjadi, dan Ia tahu bahwa hal ini harus terjadi agak manusia dapat diselamatkan. TUHAN Yesus taat sampai mati di kayu salip. Ia mengalami kengerian yang tiada taranya, tetapi Ia menyelesaikannya. Sedangkan saya, hanya masalah sekecil ini, saya mengeluh pada TUHAN. Bagaimana saya bisa menjadi seperti TUHAN Yesus seperti yang sudah saya doakan?

Selama ini saya tau benar pernyataan yang mengatakan TUHAN tidak pernah berjanji bahwa saat kita mengikuti Dia semua hal akan berjalan mulus dan segala keuntungan atau kebaikan akan kita terima. Seperti lagu Edward Chen Jangan Pernah Menyerah, liriknya yang mengatakan dengan jelas “TUHAN tak pernah janji langit selalu biru, tetapi Dia berjanji selalu menyertai. TUHAN tak pernah janji jalan selalu rata, tetapi Dia berjanji berikan kekuatan..” lagu ini sangat indah dan menguatkan.

Selain lagu indah ini banyak sekali cerita tokoh-tokoh di Alkitab yang dengan nyata menunjukkan bahwa perjalanan menjadi orang Kudus itu tidak mudah. Daud yang sepanjang hidupnya taat kepada ALLAH dan mengasihi ALLAH sepenuh hati pun hidupnya tidak semulus yang kita bayangkan. Adapula Ayub, yang sepanjang hidupnya begitu mengasihi ALLAH, rajin membakar kurban bakaran untuk dirinya dan keluarganya agar ALLAH senantiasa berkenan kepadanya juga mengalami cobaan hebat dimana ia kehilangan segala sesuatu yang dimiliki. Ada lagi Yusuf, si bungsu (sebelum kelahiran Benyamin) yang terkecil diantara sanak saudaranya yang sejak kecil mendapatkan mimpi bahwa Ia akan menjadi besar dan dihormati oleh seluruh saudaranya. Ia dibuang oleh saudara-saudaranya sendiri dan dijual sebagai budak kepada orang Mesir. Tidak lupa juga kisah Petrus, murid yang terkasih TUHAN Yesus yang selalu dengan gigih memberitakan Injil dengan segala penderitaan yang ia alami serta masih banyak lagi. Mereka adalah pahlawan-pahlawan rohani yang kehidupannya menggambarkan walaupun berjalan dalam lembah kelam, TUHAN selalu menyertai. Walaupun segalanya terasa sulit, tangan TUHAN senantiasa memelihara mereka dan memberikan mereka kekuatan. Janji TUHAN adalah kekuatan mereka untuk bertahan karena mereka percaya TUHAN akan menepati janji-Nya. Mereka adalah sosok manusia biasa yang sekalipun merasa ketakutan, tidak membiarkan ketakutan itu menyelimuti mereka malahan semakin kuat rasa takut itu menyergap, semakin kuat mereka berseru kepada ALLAH dan mengharapkan pertolongan yang datang dari ALLAH.

Melalui peristiwa ini saya percaya bahwa TUHAN sedang ingin melihat keseriusan saya dalam mengikuti-Nya. TUHAN ingin melihat keseriusan saya dalam mengimani apa yang saya doakan ketika saya meminta untuk menjadikan hati saya seperti hati TUHAN Yesus. Seberapa kuat keinginan dan seberapa dalam kesetiaan saya mengikuti proses yang TUHAN berikan ini. Apakah saya termasuk dalam kelompok semak berduri yang ketika benih (firman TUHAN) ditabur kepadanya, menjadi terhimpit oleh sehingga tidak bertumbuh, ataukah menjadi tanah yang baik, yang ketika penabur (TUHAN) menabur benihnya (firman-Nya), tumbuh subur dan menghasilkan buah?

Saya memilih menjadi tanah yang baik itu. Saya mau percaya pada firman dan janji TUHAN. Saya mau berbuah di dalam TUHAN.

Saya mengucap syukur kepada TUHAN karena kejadian-Nya dahsyat dan ajaib. Pertolongan-Nya selalu tepat pada waktu-Nya dan tepat sasaran. Apapun yang akan terjadi kedepannya, saya tahu bahwa TUHAN saat ini sedang menggenggam tangan saya, menggendong saya untuk melalui kejadian ini. Saya meminta agar hati saya diubahkan dan TUHAN telah mengubah bukan hanya hati, tetapi cara pandang saya dalam menyikapi persoalan ini. TUHAN memang baik. Selalu baik dan amat sangat baik.

Biarlah nama TUHAN selalu dimuliakan..

Kupang, 19 Juli 2020

Sumber gambar: https://www.kaj.or.id/read/2017/11/13/11673/surat-keluarga-november-tantangan-mengikuti-yesus-sekeluarga.php

Chapter Twenty-Six

Source : Pinterest

Today is my birthday and as you calculate it, I officially turn twenty-six today.

I always think that it is necessary to look back at my past and have a glance at the previous year before I really end this special day. Writing on my birthday is one of the means to cherish the moment so I can always go back to see what it looks like in the past.

My 25 year-old life had been a roller coaster ride. It started off with having my heart broken exactly on my birthday. I don’t wanna go into details about this because it was too personal to me and I had promised myself not to dredge up the feeling I had tried to burry forever. On a positive note, I was happy that God had prepared me to face it by revealing to me that he wasn’t the one few months before that so I could back off from our relationship and gradually diminish my feelings for him. That time I didn’t understand why this could happen to me and why he behaved that way but as the day went by everything seemed to link to one another.

In this age also, I experienced what so called “Quarter Life Crisis”. I didn’t know that it was existent. The anxiety, fear and the feeling of not being good enough haunted me every time I woke up in the morning. I hated the nights when I couldn’t even close my eyes because of my overthinking. I had no peace whatsoever. I prayed but it seemed like my anxiety couldn’t fade away. Everything seemed wrong to me. To top it all off, I began to compare my life with my other friends’ lives which seemed more successful than mine. I hated myself for not knowing what I really wanted and where I wanted to go.

I knew I couldn’t be like this forever. I knew I needed some breaks. From life, from my busy schedules and from everything. I freed myself from everything that had caught my attention. I did the social media fasting and that was one of the best things I’d ever experienced. I no longer had that craving for attention through likes and engagement. It felt so good.

This phase of life had also its goodness. This year I had two major events that sparked the light of hope and made me realize the perfect and loving care of the Lord throughout every journey in my life. It was also a reminder for me that God was not finished yet. As long as I was still breathing, there was always hope and that help was always there.

God had been so good to me throughout my 25 year-old life. He was so close to me and watching me over as I took the baby steps. He was a prayer away and it was true that things magically turned well after I prayed. I was too focus on asking and wondering alone that I forgot that He was the answer. He alone was the way yet I kept searching in the darkness and all I found was emptiness because my focus wasn’t on Him.

As I got back on track, He leaded me. He brought me to the peace I could never find in any places but His. I thank God for His Providence and His patience ❤️

Waktu Aku Takut, Aku ini Percaya Kepada-Mu

source : https://debra-casagrande.com/starseeds-and-empaths-need-time-alone/

Setelah sekian purnama mengumpulkan niat, ide-ide sampai pada tahap menulis draft di blog agar tidak kelupaan. Pemikiran-pemikiran yang ingin saya bagikan pada akhirnya hanya sampai pada tahap bertengger dalam folder draft. Setiap kali mendapat ide menarik, isi kepala ini bergejolak “mau tulis ini di blog ahh, ehh tapi tunggu dulu. Buatin idenya aja dulu kali yaa” selalu seperti ini hingga tak ada satupun yang terealisasikan. Paling mentok ya di kirim ke WhatsApp status. Entah berapa banyak thema yang bergantung disana, yang hanya datang dan pergi begitu saja.

Menjaga konsistensi untuk terus menulis di blog bukanlah perkara mudah bagi seorang moody blogger seperti saya. Dari yang rencananya menulis review terkait buku-buku menarik yang telah saya baca, sampai pendapat tentang isu-isu sosial dan politik. Dari topik receh nan greget seperti gossip selebrity sampai topik-topik berat seperti dugaan kasus pemakzulan President Trump dan pemulangan WNI yang pernah bergabung dengan ISIS hasil diskusi saya dengan seorang teman. Semuanya ingin sekali saya bagikan, tapi apa daya godaan-godaan lainnya lebih berat. Maafkan diri ini, pesan yang terus saya katakan pada diri sendiri.

Satu-satunya hal di dunia ini yang mampu mendongkrak semangat seorang Junita Diding untuk menulis adalah kegalauannya. Bukan galau masalah percintaan. Hal ini perlu digaribawahi. Tidak semua kegalauaan yang dialami seseorang bersumber dari kegalauannya akan masalah percintaan. Walaupun diusia sepertempat abad dengan status single sering dikaitkan dengan kehidupan yang menyedihkan (saya sangat tidak setuju dengan hal ini). Saya tidak bilang saya kebal terhadap permasalahan percintaan. Saya sosok yang cukup mellow dan ambyar. Hanya saja permasalahan cinta bukanlah sesuatu yang menurut saya pantas menyita waktu saya untuk terlalu khawatir dan bersedih dalam waktu berkepanjangan.

Menulis merupakan salah satu terapi yang paling mujarab bagi saya. Dengan menulis saya menemukan kekuatan dan penghiburan tersendiri. Itu sebabnya catatan-catatan dalam blog ini sebagian besar berisi motivasi dan penguatan terkait masalah kehidupan, karena memang saya menulisnya sebagai terapi untuk diri sendiri. Setelah menulis perasaan saya akan kembali membaik. Hati ini menjadi lebih tenang dan pikiran menjadi lebih jernih. Dengan menulis saya kembali mengingatkan diri saya bahwa TUHAN Yesus yang dahulu selalu hadir dan menolong saya, adalah TUHAN yang sama yang saat ini berjalan bersama saya dan meneguhkan iman saya.

Melanjutkan obrolan terkait kegalauan di hidup ini, hari ini ada sebuah peristiwa yang terjadi dan cukup membuat saya sempat merasa khawatir namun saya kembali diingatkan akan firman Tuhan dalam kitab Mazmur 5 : 11-13 “Tetapi semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya, karena Engkau menaungi mereka; dan karena Engkau akan bersukaria orang-orang yang mengasihi nama-Mu. Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai.” Firman ini memberikan saya kelegaan dan menenangkan hati saya saya. Saya tahu bahwa badai ini pun akan berakhir. Seperti badai-badai sebelumnya.

Hanya oleh karena kemurahan TUHAN saya dapat merasakan sukacita di tengah permasalahan hidup yang menghimpit. Saya percaya, ketika saya berlutut dan menyerahkan segala permasalahan yang terjadi di luar kendali saya ini, TUHAN dengan tangannya yang terbuka menyambut dan menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan. Permasalahan yang hari ini boleh terjadi tentunya tidak luput dari perhatian ALLAH.

Saya percaya TUHAN sedang berkerja bahkan sebelum saya datang padanya untuk meminta pertolongan. Siklus seperti ini selalu terjadi dan saya menikmati setiap proses yang TUHAN berikan. Permasalahan ada untuk membuat saya semakin dekat dengan TUHAN. Untuk membuat saya “bergantung” pada otoritas dan keMahakuasaan-Nya. Dengan hati yang ringan, saya tahu bahwa TUHAN punya jalan keluar yang terbaik. Saya hanya perlu datang, mengangkat hati dan mengutarakan apa yang ada dalam pikiran saya. Seperti seorang anak kecil yang berlari ke arah bapanya saat dikejar ombak yang menggulung, saya berlari kepada TUHAN dan berkata “Waktu aku takut, Aku ini percaya kepada-Mu” Mazmur 56:4. Dan Ia akan bertindak.

4 Signs God Is Protecting You From a Bad Relationship

by Mark Ballenger

And this is the confidence that we have toward him, that if we ask anything according to his will he hears us.”

1 John 5:14 (ESV)


How can you tell if God is protecting you from a bad relationship? What signs will be present if God is actually sparing you pain by not allowing a relationship to progress forward in your life?

Here are 4 signs God is protecting you from a bad relationship.

If This Person Reveals Their Ugly Character Early in the Relationship and Leaves You, This Is a Sign God Is Protecting You

While it can be hurtful for someone you really liked to get mad and leave you, in reality this is God protecting you from getting further attached to someone who is not prepared to have a godly relationship.

Perhaps you thought this new relationship would result in marriage. Perhaps you thought this guy was the one. Perhaps you thought you finally met the girl of your dreams. But then all of sudden this person showed you a totally different side to themselves. They get mad at you and totally cut you out of their life. What happened?

The way God protects us is by bringing the truth to light. This person didn’t change. This person was like this all the time but they had just not shown you this side of themselves yet. In kindness God allowed you to see this dark side early so he could protect your from a bad relationship.

If Your Friends and Family’s Concerns End Up Being Right, This Is a Sign God Is Protecting You from a Bad Relationship

When people warn us not to get involved with a certain person but we do it anyway, we can feel like fools when they end up being right and we were wrong.

However, we shouldn’t view it like this. Rather than being humiliated because everyone was right about this relationship, you should see their warnings as confirmation that God ended this relationship because he is protecting you.

If everyone was happy about this relationship and saw no red flags but then the relationship failed, it would be far more confusing on what happened. But if those who love you the most had huge concerns about this person and then those concerns were confirmed by this person’s behavior, you can be sure that God did not let this relationship go further because he was protecting you.

If Someone Was Leading You On But Then Started Dating Someone Else, This Is a Sign God Is Protecting You

Another sign that God is protecting you from a bad relationship is when the person you liked starts dating someone else. Perhaps you were talking to a guy and things seemed to be going really well. He was saying all the right things. He was making you believe he was about to ask you to be his girlfriend. And then all of sudden he disappears and starts dating someone else. What happened?

As time goes on and you begin to heal from the hurt, you will see that this was actually God protecting you from a bad relationship. Imagine if this guy was talking to all these other girls behind your back and then you started dating him? That would have actually been worse than him leading you on and then dating someone else.

If You Pray for a Relationship But It Doesn’t Happen, God Is Protecting You

If you do not end up with someone, it doesn’t always mean that God was saying this person is bad. It doesn’t mean this person would be a bad husband or wife one day. Rather, it is safe to conclude that this relationship would not have been God’s best for you. This person might be a great spouse one day. They just are not meant to be your spouse one day.

God always does what’s best for us. We certainly will not always agree with him. God is always focused on developing our relationship with him first and foremost and this is not always our main concern. Sometimes we will find it difficult to believe that God’s “no” to a prayer request is what’s best for us. But when we trust God’s love and goodness, we can be certain that God’s only protecting us from a bad relationship.

God will answer good prayers that are in alignment with his will. 1 John 5:14 states, “And this is the confidence that we have toward him, that if we ask anything according to his will he hears us.” If God does not answer a prayer in your life, it means it was not his best for you and it was not in alignment with his will.

Source : https://applygodsword.com/4-signs-god-is-protecting-you-from-a-bad-relationship/

2019


2019 is pretty much over. I have nothing to say but Thank God. Those days I thought I couldn’t survive, yet here I am looking back at those days, smiling that I passed them. Also there are times when great things happened and I wonder what have I done to receive such blessings?

I’ve come to realize that It’s not for what I’ve done that I receive them. It’s because of Your grace, I receive things I don’t deserve. I’m so ready for 2020. With you by my side, I know I have nothing to worry.

30 Day Writing Challenge: Day #30 One Thing You Are Excited For

Finally, this 30-day writing challenge has come to an end! I’m so proud of myself that I was able to follow through. It was not easy in the beginning. I had to struggle with my unpredictable schedule and luckily as the days passed, I managed to get into a rhythm. Things have been smooth since I passed the fifteen-day threshold. 

Anyway, today’s topic is one thing you’re excited for. Well, as we know that Christmas is coming and I’m so excited for it! I can’t wait to attend Christmas Eve mass and Christmas day mass. Attending both masses at Christmas are my favorite because of course, they only happens once a year lol. The other fun things I like about Christmas are I get to eat a lot of food and cookies and cakes and drink a lot of soda and also get to visit my relatives. 

Celebrating Christmas in Indonesia is something special. Besides decorating the Christmas tree and house, we also have a tradition where we gather at our grandparents house and celebrate Christmas together after the Christmas eve mass. The next day, which is Christmas day, we visit the graves of our family members and light candles there. We also visit our neighbors from door to door. This tradition applies for Muslims too. We visit our Muslim friends and families’ houses for Lebaran Day and they will do the same for us on Christmas. We have a tradition of giving away money to kids who come visit us and that is one of the reasons that the kids like to come in groups to each house in their neighborhood. Not all families will give out money, but some will. Mostly they let the kids go home with some candies. 

The other fun thing here that identifies that Christmas and New Year is coming is that you will see people sell firecrackers on the streets with loud music to draw attention. Kids will ignite the firecrackers every day and everywhere and this will end a few days after New years Eve.

Christmas is the moment of joy, in the meantime all traditions we have are just to celebrate this special day. The day when our savior was born. This is the main thing, having our hearts open for the baby Jesus.

30 Day Writing Challenge: Day #29 The Night of Your 21st Birthday

Since I don’t remember much about the night of my 21st birthday anymore (It’s been four years), I’ll be talking about the night of my last birthday.

My last birthday was one of the best birthdays I’ve ever had. Birthdays are always my favorite days. It’s always a special day. That’s the day when I’m getting another year older and I love that God allows me to live it. Anyway, the reason I said my last birthday was one of the best birthdays I’ve ever had is because this year I traveled to my mom’s hometown in Atambua. All of my mom’s family lives there and I’m so happy that I got to visit them and celebrated my birthday with my relatives.

I got a birthday surprise from my family. That night my aunt said she was going somewhere so I just chilled with my nephews and nieces and cousins while watching tv. For your information, my grandparents had a huge property and they divided it among their children so everyone could  live in the same area with their family. We were in the main house which is my grandparent’s old house in which everyone always got together. This is one of the reasons why I love my family in Atambua. We are bound really tight and everyone will always make time together either for watching tv or just chit chat. 

Back to the birthday surprise. Since my family is a huge family, you can’t tell who is at home and who is out. So, when my aunt said she was going out somewhere, I didn’t know who she was going with. Later at night, while I was playing with my nephews and nieces, my aunt and my cousin came with a chocolate birthday cake in her hands. They all sang happy birthday to me and as you can tell, my nephews and nieces went wild. They were very excited and wanted to be in front of the camera (my cousin was recording the moment). All of my family gathered at night to celebrate my birthday. I was so happy. I cried happily because I didn’t expect that.

30 Day Writing Challenge: Day #28 The Word/Phrase You Use Constantly

The two words I use constantly are “Thank you” and “Sorry”

I use these two words too many times even when it is out of the context sometimes. 

The word thank you has become a habit and this word will automatically come out of my mouth after I have an interaction with other people. 

I say “sorry to bother you” when I want to text someone, I say sorry when I block a stranger’s way, I say sorry when I’m asking for someone’s help even when they are supposed to do it and many other times. And of course, I say thank you after all.

I don’t know but I just feel bad if I don’t let people know that I appreciate what they do for me or for the time they take to interact with me. I realize that in some contexts I don’t have to say them but I say them anyway.

I know it’s a good habit but sometimes I get annoyed and think that I’m silly.